Hai...
Aku punya cerita moral judulnya segenggam permen cokelat. Dibaca ya...
Aku punya cerita moral judulnya segenggam permen cokelat. Dibaca ya...
SEGENGGAM PERMEN COKELAT
Oleh: Eviyana Sansiska
Suatu hari, ada sebuah toko yang kedatangan seorang ibu dan anak yang sedang berbelanja di sana. Pemilik toko itu sangat senang melihat anak yang manis itu, hingga ia berniat menawarkan permen cokelat kepada anak itu.
" Dik.. kamu mau permen cokelat ini? " tanya pemilik toko sambil menyoderkan setoples permen cokelat
Namun
anak kecil itu hanya diam saja sambil menatap setoples permen cokelat
itu. Dengan perasaan binggung, pemilik toko membukakan toples permen
cokelat. Kemudian ia berkata kepada anak tadi.
" Nah.., toplesnya sudah paman buka, sekarang kamu sudah bisa mengambilnya. Ayo ambil... ". Sama sepeti sebelumnya anak itu diam dan memandang permen cokelah itu.Sang Ibu pun juga membujuk anaknya untuk menggambil permen tersebut, namun sang anak tetap diam. Hingga pemilik toko itu mengambil permen cokelat itu dan memberikanya. Anak itu membuka kedua tangannya dengan gembira dan berkata terima kasih kepada pemilik toko itu.
Dalam perjalanan pulang ibunya bertanya kepadanya mengapa ia tidak mengambil permen cokelat itu ketika ditawari oleh paman pemilik toko. Kalian tahu apa yang anak itu katakan?
" Ma.. tanganku kan kecil, jika aku mengambilnya maka yang aku dapatkan hanya beberapa permen saja. Tapi lihatlah sekarang.. Tangan paman itu menberikan ku permen yang banyak hingga aku tidak bisa menggengamnya dengan satu tangan saja."
Ibunya tersenyum mendengar perkataan anaknya itu.
Pesan Moral dari cerita ini adalah : Kita tidak boleh memaksakan sesuatu jika ingin mendapatkan lebih, sabarah Tuhan pasti akan memberikannya lebih banyak dari pada apa yang kita minta dan yang kita harapkan.
Terima kasih ya... sudah mau membaca ceritaku. Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan. Sampai jumpa di cerita ku yang lainnya.
" Nah.., toplesnya sudah paman buka, sekarang kamu sudah bisa mengambilnya. Ayo ambil... ". Sama sepeti sebelumnya anak itu diam dan memandang permen cokelah itu.Sang Ibu pun juga membujuk anaknya untuk menggambil permen tersebut, namun sang anak tetap diam. Hingga pemilik toko itu mengambil permen cokelat itu dan memberikanya. Anak itu membuka kedua tangannya dengan gembira dan berkata terima kasih kepada pemilik toko itu.
Dalam perjalanan pulang ibunya bertanya kepadanya mengapa ia tidak mengambil permen cokelat itu ketika ditawari oleh paman pemilik toko. Kalian tahu apa yang anak itu katakan?
" Ma.. tanganku kan kecil, jika aku mengambilnya maka yang aku dapatkan hanya beberapa permen saja. Tapi lihatlah sekarang.. Tangan paman itu menberikan ku permen yang banyak hingga aku tidak bisa menggengamnya dengan satu tangan saja."
Ibunya tersenyum mendengar perkataan anaknya itu.
Pesan Moral dari cerita ini adalah : Kita tidak boleh memaksakan sesuatu jika ingin mendapatkan lebih, sabarah Tuhan pasti akan memberikannya lebih banyak dari pada apa yang kita minta dan yang kita harapkan.
Terima kasih ya... sudah mau membaca ceritaku. Maaf kalau ada kesalahan dalam penulisan. Sampai jumpa di cerita ku yang lainnya.






1000 SM - Nama Awal Pohon Kakao
100 M - Kata “Kakao”
600 M - Cokelat Sebagai Simbol Status
1000 M - Nilai Kakao
1200 – 1500 - Perang Cokelat
1502 - Eropa Menemukan Cokelat
1528 - Penaklukan Spanyol Atas Cokelat
1544 - Maya Pergi ke Spanyol
1560 - Kakao di Asia
1657 - Tempat Pertemuan Kalangan Atas
1671 - Asal dari "praline"
1674 - Masakan Cokelat
1697 - Dari Brusselske Zurich
1712 - Cokelat Kembali ke Amerika
1778 - Produksi Kakao di Indonesia Dimulai
1828 - Terciptaanya Kakao
1848 - Makan Cokelat
1850 – 1860 - Musuh Tanaman Kakao
1875 - Cokelat Susu Batangan
1879 - Proses “Conching”
1912- Kreasi Cokelat
2005 - Terciptanya Cokelat Monggo 